aku, KAU, dan mereka. kini
aku hanyalah satu individu, langkahku takkan pernah mampu menggapai semua keinginanmu, karena aku kecil. cahayaku hanya seperseribu persatu bintang. tapi tahukah kau sebesar apa bintang itu?.. dan aku merasa diriku melebihimu yang hanya sanggup menjadi bulan, walaupun dominan dikala malam, tetap saja kau hanya bisa mamantulkan. sejenak kau bangga, tapi kau tak merasa itu benar - benar nyata. kau berkata "inilah dia simahakarya", tapi kau menangis karena itu hanya sementara. dibenakmu terpatri sebuah realita yang memaksamu untuk terpaksa mengikuti kehendak mereka, yah, mereka yang akan senantiasa mengelu - elukanmu, menyanjungmu, dan mengangapmu sebagai si SATU.
dan itu bukanlah kesalahan mereka yang membuatmu meruntuhkan idealisme dan cita - cita awalmu. mereka memaksamu untuk begitu, tapi mereka tak punya kuasa mengubahmu, karena itu adalah sebuah pilihan, dan kau memilih untuk berubah.
dan kini, kekinianmu membuatmu malu. merekapun begitu dan berusaha secepatnya melupakanmu, menganggapmu hanyalah secuil masa lalu yang berasal dari kekinianmu dan kekinian mereka yang telah kadaluarsa dan berganti dengan kekinian yang terkini.
dan aku tetaplah aku yang bangga dengan diriku, dengan kebodohanku, dan dengan kekonservatifanku. aku, si satu bintang perseribu tetap berchaya dalam belenggu bayang - bayangmu yang lambat laun sirna dikala sang surya tiba dan mereka berkata "selamat pagi dunia". dan aku tetap bangga karena aku tetaplah aku yang tak pernah menjadi dirimu. kekonservatifanku membimbingku
ketololanku membuatku berusaha mencerdaskanku. karena itu aku, dan begitulah aku……kekinian dari masa lalu dan aku stagnant pada masa lalu itu yg mengantarkanku pada kekinianku.